Mengenal Beberapa Keluarga Ex Pelajar/ Mahasiswa Pejuang Kemerdekaan

 

Gambar

Logo ini menggambarkan bahwa Tentara Pelajar adalah kaum terdidik

Selama ini warga masyarakat mungkin hanya mengenal Keluarga ex Pelajar/Mahasiswa Pejuang Kemerdekaan dari nama jalan Tentara Pelajar yang ada di berbagai wilayah, terutama di Pulau Jawa. Memang tidak salah dan demikian yang terjadi. Ada banyak nama yang digunakan untuk sebutan Pelajar/Mahasiswa Pejuang Kemerdekaan, diantaranya adalah Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan yang dibentuk setelah Kongres Kongres Pemuda Pelajar se Jawa 25 September 1945 di Yogyakarta dan Kongres Pelajar Indonesia di Madiun, 1 – 5 Januari 1945. Pada Kongres di Madiun, terjadi perubahan besar dalam susunan pengurus IPI yang semula diketuai Anto Sulaiman (mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta) digantikan oleh Tatang Mahmud. Sementara itu, Bagian Pertahanan yang kemudian dikenal sebagai Pasukan IPI diketuai oleh Suyitno.

 

Pada tanggal 17 Juli 1946 diadakan apel besar di markas Tentara Keamanan Rakyat di daerah Pingit Yogyakarta yang dipimpin oleh Mayor Jenderal dokter Moestopo. Apel ini adalah pendaftaran ulang bagi para pelajar yang akan mengikuti latihan dasar kemiliteran  di Akademi Milter Kotabaru Yogyakarta (sekarang kompleks RST/DKT dan bangunan di sekitar Gedung Pamungkas Kridosono) selama dua minggu. Materi latihan adalah baris-berbaris, pengenalan senjata ringan, ilmu medan, taktik serangan dan pertahanan. Komandan kadet adalah Polly Sulistyanto. Jumlah anggotanya satu Seksi dan dibagi beberapa Kompi yang berasal dari berbagai Sekolah Menengah di Yogyakarta. Mereka sering disebut sebagai angkatan pertama dan satu diantaranya adalah Sri Daruni (SMA C Yogyakarta) yang kemudian diangkat sebagai Kepala Staf Putri pada Markas Pusat Pelajar di Tugu Kulon.

 

Sebagai ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota pelajar yang didatangi oleh banyak pelajar dari luar Jawa. Mereka ada yang sebelumnya telah melakukan penghimpunan kekuatan seperti Pelajar Sulawesi, Kalimantan, Ambon, Flores dan lain-lain. Dalam hal kelaskaran, Pelajar Sulawesi yang lebih dikenal dengan sebutan PERPIS diketuai oleh Tadjuddin yang kemudian gugur sebagai bunga bangsa dalam Pertempuran Sidobunder-Puring-Kebumen pada 1 dan 2 September 1947.

 

Adanya maklumat Pemerintah tanggal 5 Oltober 1945, IPI Bagian Pertahanan dibagi menjadi 3 Resimen yang membawahi wilayah Jawa Timur, Tengah dan Barat serta satu batalyon khusus zeni (Tentara Genie Pelajar/TGP).

1.     Resimen A di Jawa Timur menggunakan nama Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dan pasukannya disebut mas TRIP . Nama ini kemudian jadi nama jalan di daerah Ketintang Surabaya. Mereka dibagi 5 batalyon untuk wilayah Mojokerto (Yon 1000), Madiun (2000), Kediri (3000), Jember (4000) dan Jember (5000).

2.     Resimen B dibagi menjadi 5 batalyon juga yaitu Yon 100 (Solo), 200 (Pati), 300 (Yogyakarta), 400 (Cirebon) dan 500 (Pekalongan). Nama yang digunakan adalah Tentara Pelajar.

3.     Resimen C dibagi jadi 4 batalyon: I s.d IV dengan nama Tentara Pelajar Siliwangi.

 GambarGambar

Selain itu, ada beberapa nama/kesatuan yang muncul di berbagai wilayah, terutama Jawa Tengah dan dikenal dengan TP SA/CSA (Salatiga dan sekitarnya), Laskar Kere (Solo), mas TP dan TP IMAM (Banyumas), TP Kedu Utara (Magelang dan Temanggung), TP Kedu Selatan (Purworejo, Kebumen dan Wonosobo) dan lain-lain.

 

Penetapan Presiden No 1 tanggal 2 Januari 1948 yang disempurnakan pada 4 Mei 1948, seluruh kekuakatan Pelajar/Mahasiswa Pejuang Kemerdekaan masuk ke Brigade XVII TNI.

Adanya Putusan Menteri Pertahanan RI No. 193/MP/1950 tanggal 9 Mei 1950, seluruh jajaran Brigade XVII TNI didemobilisasi dengan dua pilihan (a) melanjutkan karir militer atau (b) kembali ke bangku sekolah/kuliah. Dengan demikian, sejak saat itu tak ada lagi nama kesatuan : Brigade XVII TNI.

 

Pada awal dasawarsa 1970, para ex anggota Brigade XVII membentuk paguyuban dan keluarga besar. Beberapa nama yang cukup dikenal diantaranya adalah :

a)     Paguyuban III – 17 yang diketuai oleh Martono (komandan Detasemen III/ Batalyon 300, mantan Meneteri Transmigrasi)

b)     Paguyuban/ Keluarga Besar TGP (Hartawan)

c)     Keluarga Besar TP SA/CSA (Masyhuri)

d)     Paguyuban ex TP Kedu Selatan (Imam Pratignyo, Subiyono, Imam Subechi)

e)     Keluarga Besar ex TP Detasemen II Solo

f)      Keluarga Besar ex TP Kedu Utara

g)     Keluarga Besar ex TRIP Jawa Timur

h)     Paguyuban Keluarga Besar Pelajar/Mahasiswa Pejuang Kemerdekaan (PKB-PPK) dan lain-lain. 

 

Dari berbagai nama tersebut, nampaknya Paguyuban III – 17 adalah perkumpulan ex anggota Brigade XVII TNI yang sering mengadakan kegiatan pembangunan monumen, pemberian nama jalan, pembangunan sarana / prasarana sosial masyarakat semisal pembangunan bak penampungan air minum di Temanggung, Balai Desa di Sidobunder Kecamatan Puring Kebumen dan sebagainya.

Selain itu pernah muncul nama perkumpulan generasi muda : Tunas Patria (III-17), Taruna Patria (II-17), Tunas ex TP Kedu dan lain-lain nama yang mungkin saja belum diketahui oleh penulis.

 

Pada tahun 2004, penulis pernah mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di Temanggung atas undangan keluarga besar ex TP Kedu Utara. Saat itu, pakde Wahyu Sukotjo (kalau tidak salah sebut nama), sesuai amanat Musyawarah Nasional Paguyuban III 17 di Gedung Pertemuan Akmil Magelang  yang intinya adalah ada upaya terorganisasi untuk melestarikan nilai-nilai kejuangan Tentara Pejar dalam wadah Tunas Patria Ganesha Pratama (TPGP). Yang diberi tugas melakukan kordinasi adalah Ketua Tunas Patria Kab. Temanggung (lupa nama). Namun perkembangan selanjutnya tak ada lagi kabar berita yang jelas. Sementara itu, saya telah aktif kembali di PMI sampai sekarang.

 

Meski demikian, saya punya kenangan khusus ketika bertemu Pakde Hartawan yang menyempatkan diri dalam sebuah pertemuan kecil di rumah keluarga Agus (putra alm. P. Achadi-Purworejo) daerah Jetis, dekat STM I, pada tanggal 17 Januari 1988. Di sana berkumpul sejumlah generasi muda ex Brigade XVII dari Detasemen II (Yoyok dan Yanti), Koko dan beberapa lainnya yang telah lupa namanya. Pakde Hartawan menyambut baik kegiatan ini meski untuk memastikan pertanyaan kritis dari Agus tentang “masa depan” generasi penerus ex Brigade XVII tak dijawab dengan jelas.

 

Secara kebetulan, adanya media sosial seperi Facebook, Twitter, Blog dan lain-lain kemudian menautkan kembali pribadi dan keluarga yang terpisah karena berbagai faktor. Harapan Pakde Wahyu Sukotjo maupun para pelaku lain untuk tetap melestarikan nilai-nilai perjuangan Pelajar/ Mahasiswa Pejuang Kemerdekaan tentu saja menjadi sebuah keniscayaan. Semoga.

Gambar

Monumen Palagan Sidobunder

Monumen Palagan Sidobunder

Monumen ini dibangun oleh Paguyuban III -17 di Desa Sidobunder Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah. Terletak di pertigaan jalan di depan Balai Desa Sidobunder. Monumen dan Balai Desa diresmikan secara bersamaan sebagai tanda penghargaan Keluarga Besar ex Tentara Pelajar kepada masyarakat di sekitar lokasi pertempuran 1 – 2 September 1947 yang menyebabkan gugurnya 24 anggota Tentara pelajar pada tanggal 12 Pebruari 1984.

#RUUKepalangmerahan

RELAWAN PMI MENGGUGAT-BAGIAN KEDUA

#RUUKepalangmerahan

Tindak lanjut aksi 3 Desember 2013, kami telah beraudiensi dengan dua fraksi besar di DPR RI yakni F PDIP pada 4 Desember dan FP Golkar 5 Desember 2013 bersamaan dengan perayaan Hari Relawan Se Dunia yang ditetapkan oleh Persatuan Bangsa Bangsa (United Nations). Kedua fraksi sangat responsif dan respektif dengan semua penjelasan delegasi Relawan PMI yang berjumlah 18 orang dan didampingi oleh Kepala Bidang Relawan Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia Bp. H. Muas, SH. Intinya, mereka memandang sangat urgen untuk mengagendakan RUU Kepalangmerahan pada masa sidang 2013/2014 yang akan berakhir Maret 2014. Bahkan FPG merasa “disepelekan” oleh Ketua Pansus yang tak pernah berusaha mengundang para anggota Pansus RUU Kepalangmerahan untuk bersidang dan membahas materi RUU. (Pernyataan anggota Pansus dari FPG dari Sulsel, Ibu Riyani Sudirman pada audiensi Jumat pagi)

#RUUKepalangmerahan

Suasana Ruang FP Golkar 1

Suasana Ruang FP Golkar 2 n aku 1

Suasana Ruang FP Golkar 2 n aku 2

#RUUKepalangmerahan 

Di tengah usaha teman-teman Relawan PMI se Indonesia melanjutkan aksi simpatik 3 Desember 2013 yang mendesak agar RUU Kepalangmerahan segerah diagendakan dan disahkan sebelum masa akhir persidangan DPR RI periode 2009 – 2014 di Gedung DPR RI, satu inisiator yang mendorong lahirnya RUU Kepalangmerahan sejak 1995, sdr. Seven Audi Sapta dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa pada Jumat dinihari di Jogjakarta. Bersama alm. Christobal (Jakarta Selatan) dan Titus (Jogja) , ketiganya sangat gigih dan konsisten memperjuangkan “hak rakyat Indonesia” dalam Konvensi Jenewa 1945 yakni menguatkan badan hukum dan UU 59/1968 tentang tanda pellindung bagi Perhimpunan Nasional Palang Merah Indonesia. Bahkan, satu wasiat alm. sdr. Chirstobal sebagaimana diterima oleh sdr. Andi Gumilar, agar setelah RUU Kepalangmerahan diagendakan dan disahkan, segera ada perwakilan Relawan PMI mengibarkan bendera Merah Putih dan Lambang PMI di Jenewa, Swiss. Selamat jalan teman !

 

Pada dua kali kesempatan beraudiensi dengan dua fraksi besar DPR RI yakni FPDIP dan FP Golkar, kami membawa suara asli Relawan PMI yakni “Kami tak pernah takut mati untuk membela Merah Putih dan PMI” sebagaimana dinyatakan dengan tegas oleh Alvis Syamsi, Relawan PMI Jakarta Pusat yang telah berkecimpung dalam beragam aktivitas pendidikan, penanganan bencana maupun konflik bersenjata di PMI selama lebih dari 37 tahun. Kedua fraksi cukup paham dan berjanji untuk mendorong pengesahan RUU Kepalangmerahan segera dengan segala konsekuensinya. Termasuk menyapu bersih para “pengotor negara dan cita-cita luhur Bangsa Indonesia“.

 

Selaku pribadi, generasi muda Tentara Pelajar dan Relawan PMI sejak 1979, saya selalu mengingatkan agar semua rakyat Indonesia, khususnya anggota Pansus RUU Kepalangmerahan tidak menghianati negara dan bangsanya. Semboyan Tentara Pelajar ” Pengabdianku kepada bangsa dan negara, dari buaian sampai ke liang lahat” kian tertanam kuat dalam nurani dan gerak langkah Relawan PMI .

 

Banyak lagi fakta sejarah yang akan relawan PMI ungkapkan pada masyarakat luas. Bahwa mengganti lambang PMI di Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah bentuk nyata usaha “membubarkan negara“. Relakah kita ???